INFO
  •  Sistem Informasi Manajemen Data Statistik 
  •  contoh-contoh-contoh 
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN & MASYARAKAT 

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN MASYARAKAT KAMPUNG

 

 

Pemberdayaan Perempuan

Gender merupakan suatu hal yang masih topik hangat dalam pembangunan manusia Indonesia. Diharapkan adanya kesamaan hak dan kewajiban manusia tanpa melihat gender. Untuk itu dibentuklah suatu badan yang mengayomi serta membangun perempuan di Indonesia. Pada tahun 2006, dibentuklah suatu Badan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Boven Digoel.

Gambar 16.1 Jumlah Organisasi Perempuan di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2013-2018

Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018

 

Salah satu variabel pembangunan gender adalah keterwakilan perempuan dalam parlemen untuk melihat keterlibatan perempuan dalam penentuan kebijakan publik. Pada tahun 2018, dari 20 anggota DPRD Kabupaten Boven Digoel hanya 2 anggota saja yang berjenis kelamin perempuan. Keterwakilan perempuan dalam parlemen di Kabupaten Boven Digoel masih dibawah target nasional yaitu 30 persen.

 

Gambar 16.2. Jumlah Anggota Parlemen di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2013-2018

Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018

 

Pemerintah memiliki tujuan untuk mewujudkan kesetaraan kesempatan antara laki-laki dan perempuan. Perwujudan kesetaraan gender salah satunya dapat terlihat dari keterlibatan perempuan dalam birokrasi. Partisipasi aktif perempuan dalam pemerintahan Kabupaten Boven Digoel kian terlihat dengan beberapa jabatan struktural yang diduduki oleh kaum perempuan. Dalam tabel 16.1 dapat dilihat bahwa pada tahun 2013, terdapat 49 pejabat perempuan yang menduduki jabatan eselon II dalam pemerintahan Kabupaten Boven Digoel. Namun pada tahun 2016 terjadi  penurunan jumlah pejabat perempuan yang menduduki jabatan eselon yang hanya menjadi 1 pejabat saja. Artinya jumlah pejabat perempuan yang menduduki jabatan eselon II pada tahun 2016 menurun 49 kali lipat dibandingkan tahun 2013.

Sebanyak 2 orang menduduki jabatan eselon IV dan 8 orang menduduki jabatan eselon III pada tahun 2013. Jumlah perempuan yang menduduki jabatan eselon IV dan eselon III meningkat pada tahun 2016 56 pejabat perempuan pada eselon IV, dan 16 perempuan pada jabatan eselon III.

 

Tabel 16.1 Pejabat Perempuan di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013-2018

Pejabat Perempuan

2013

2014

2015

2016

2017

2018

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Eselon IV

2

*

*

56

*

*

Eselon III

8

*

*

16

*

*

Eselon II

49

*

*

1

*

*

Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018

Keterangan :*) data tidak tersedia

 

 

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan gender antara laki-laki dan perempuan. Perempuan yang dianggap lemah cenderung menjadi objek kekerasan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Tidak hanya perempuan, kekerasan juga seringkali terjadi terhadap anak.

Berdasarkan data yang tercatat dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat 3 kasus kekerasan terhadap wanita pada tahun 2013. Jumlah kekerasan meningkat 5 kali lipat pada tahun 2014, yaitu menjadi sebanyak 16 kasus. Pada tahun 2015 dan 2016 jumlah kekerasan terhadap perempuan menurun menjadi sebanyak 12 kasus. Sementara itu, data kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2017 hingga 2018 tidak tersedia.

 

Gambar 16.3. Kasus Terhadap Perempuan di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013-1018

 

Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018

Keterangan :*) data tidak tersedia

 

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, terdapat 110 KDRT yang tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pada tahun 2013 tercatat telah terjadi 4 kasus KDRT. Jumlah kasus KDRT meningkat 4 kali lipat pada tahun 2016 menjadi 16 kasus. Dalam dua tahun berikutnya yaitu tahun 2015 hingga 2016, jumlah kasus KDRT mengalami penurunan jumlah menjadi 12 kasus. Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2017 dengan 44 kasus KDRT. Setahun berikutnya yaitu tahun 2018, jumlah kasus KDRT meningkat sangat signifikan menjadi 110 kasus KDRT. Dinas Sosial melihat kasus KDRT yang terjadi di kabupaten Boven Digoel masih sangat tinggi. Namun, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus KDRT membuat angka kasus KDRT tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang terjadi di masyarakat. Peran serta masyarakat dalam melaporkan setiap tindakan kekerasan memiliki andil yang besar untuk membantu pemerintah dalam menekan kasus KDRT.

 

Gambar 16.3. Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013-1018

Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018

 

Selain merugikan perempuan tentunya kasus KDRT tehadap anak juga dapat dilakukan terhadap anak-anak. Kekerasan yang dilakukan terhadap anak tidak hanya berdampak pada masa sekarang, namun juga bisa berpotensi untuk masa depannya. Konsekuensi penganiayaan dan pengabaian dapat menuai banyak dampak negatif pada perkembangan, psikologis, dan fisik korban. Pada tahun 2013 tercatat bahwa jumlah anak korban kekerasan sebanyak 8 kasus. Jumlah anak korban kekerasan menurun pada tahun 2014, yaitu menjadi 3 kasus. Namun pada tahun berikutnya yaitu tahun 2016, terjadi peningkatan jumlah anak korban kekerasan meskipun tidak banyak yaitu  menjadi 4 kasus. Jumlah anak korban kekerasan pada tahun 2017 meningkat secara drastis menjadi 19 kasus. Pada tahun 2018, jumlah anak korban kekerasan meningkat hampir 2 kali menjadi 32 kasus. Tingginya jumlah anak korban kekerasan pada tahun 2017 hingga 2018, disebabkan karena tingginya jumlah kasus KDRT terhadap perempuan pada tahun tersebut.

 

Tabel 16.2. Jumlah Laporan Pengaduan  Perempuan dan Anak di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013 - 2018

Laporan

2013

2014

2015

2016

2017

2018

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Laporan  Pengaduan Perempuan Korban Kekerasan

*

19

19

12

16

31

Ditindak

*

19

19

12

16

31

Belum Ditindak

*

0

0

0

0

0

Laporan  Pengaduan Anak Korban Kekerasan

*

3

2

4

19

11

Ditindak

*

3

2

4

19

11

Belum Ditindak

*

0

0

0

0

0

Sumber : Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018

Keterangan :*) data tidak tersedia

 

Dari tabel 16.2 dapat diketahui bahwa pada pengaduan perlindungan perempuan dan anak yang  terselesaikan sudah sebanding dengan pengaduan yang dilaporkan oleh masyarakat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin baik penyelesaian kasus  hukum terhadap kasus perempuan dan anak. Tercatat bahwa pada tahun 2014 terdapat 22 kasus dari masyarakat dengan 22 kasus yang terselesaikan. Pengaduan masyarakat meningkat pada tahun 2018 dengan 42 kasus dan 42 kasus tersebut sudah terselesaikan.

 

Daerah Terisolir

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Boven Digoel bahwa terdapat distrik serta kampung yang dinyatakan sebagai daerah terisolir. Pengkategorian daerah sulit berdasarkan pada akses serta mobilitas untuk menuju daerah tersebut yang sangat sulit.

Pada tahun 2011 Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung menetapkan terdapat 10 distrik dari 20 distrik yang ada serta 57 kampung dari 112 kampung yang ada sebagai daerah yang terisolir di Kabupaten Boven Digoel. Adapun distrik yang termasuk kedalam distrik yang terisolir adalah Distrik Yaniruma, Waropko, Kombut, Ambatkwi, Manggelum, Firiwage, Iniyandit, Ninati, Kombay dan Kawagit. Sedangkan kampung yang termasuk sebagai kampung yang terisolir adalah Kampung Yaniruma, Fefero, Manggemahe, Waropko, Upteyetko, Winiktit, Wombon, Upkim, Ikcan, Kanggewot, Wametkaba, Inggembit, Mokbiran, Amuan, Kawangtet, Kombut, Ayumka, Kuken, Arimbit, Awaken, Kolopkam, Manggelum, Kewam, Mangga Tiga, Bayanggop, Burunggop, Gaguop, Firiwage, Karowage, Kabuwage, Waliburu, Kawagit, Kombay, Wanggom, Niop, Biwage I, Biwage II, Langgoan, Ogenatan, Autriop, Tetop, Wariktop, Yetetkun, Ninati, Tembutka, Timka, Kawaktembut, Wanggemalo, Yafuela, Sinimburu, Dema, dan Ugo.

 

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Alokasi Dana Desa/Kampung

Pembangunan yang berawal dari kampung adalah paradigma yang saat ini digalakkan oleh pemerintah, baik di propinsi maupun daerah. Dengan adanya gerakan pembangunan yang berawal dari kampung, diharapkan masyarakat kampung yang sebagian besar masih tertinggal dalam segala hal, dapat mengoptimalkan kemampuannya dan potensi yang ada di kampungnya agar dapat menjadi masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Alasan rasional mengapa perlu adanya alokasi dana kampung adalah kebijakan alokasi dana  kampung sejalan dengan agenda otonomi daerah, dimana kampung ditempatkan sebagai basis desentralisasi. Kebijakan alokasi dana kampung ini sangat relevan dengan perspektif yang menempatkan kampung sebagai basis partisipasi, dengan harapan masyarakat kampung akan lebih diberdayakan secara sosial dan ekonomi. Jumlah alokasi dana kampung per distrik, seperti ditunjukkan oleh Tabel 16.3.

 

Tabel 16.3. Jumlah Alokasi Dana Kampung per Distrik di Kabupaten Boven Digoel Tahun Anggaran 2018

No

Distrik

Pagu Dana Kampung Total per Distrik (Rupiah)

(1)

(2)

(3)

1

Mandobo

7.386.729.897

2

Mindiptana

11.429.354.893

3

Waropko

7.735.041.699

4

Kouh

2.774.950.668

5

Jair

7.487.441.808

6

Bomakia

6.071.697.436

7

Iniyandit

4.654.560.821

8

Arimop

5.806.560.644

9

Fofi

7.035.462.235

10

Ambatkwi

4.315.540.546

11

Manggelum

5.151.627.895

12

Firiwage

3.593.222.650

13

Yaniruma

3.164.027.286

14

Subur

3.640.979.162

15

Kombay

4.620.151.336

16

Ninati

4.204.855.085

17

Sesnuk

4.780.077.003

18

Ki

4.400.792.412

19

Kawagit

5.220.394.692

20

Kombut

4.452.226.837

Boven Digoel

107.925.695.005

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Boven Digoel, 2018

 

Seperti yang tampak pada tabel 16.3 diatas, jumlah distrik yang menerima dana alokasi kampung pada tahun 2015 sebanyak 20 distrik, dengan total PAGU Kampung sebesar Rp.107.925.695.000. Distrik Mindiptana merupakan distrik dengan penerima alokasi dana kampung terbesar, yaitu sekitar 11,429 miliar rupiah, karena memang Distrik Mindiptana memiliki jumlah kampung terbanyak dibandingkan distrik-distrik lainnya di Kabupaten Boven Digoel.

Setiap kampung yang berada di Boven Digoel menerima laokasi pagu dana kampung. Dari 112 kampung secara keseluruhan, masing-masing menerima alokasi dana pagu kampung dengan jumlah yang berbeda satu dengan yang lain bergantung pada beberapa hal, diantaranya keadaan demografi dan  geografis setiap kampung. Adapun alokasi pagu dana kampung per kampung per distrik dapat dilihat pada tabel 16.4 dibawah ini.

 

Tabel 16.4 Alokasi Pagu Dana Kampung Per Kampung Per Distrik, 2018

No

Distrik

Kampung

Pagu Dana Kampung Total per Distrik (Rupiah)

(1)

(2)

(3)

(4)

1

Mandobo

Ampera

1.165.304.398

Sokanggo

1.663.495.243

Persatuan

2.375.380.526

Mariam

857.200.077

Mawan

1.325.349.653

2

Mindiptana

Mindiptana

714.627.732

Umap

729.531.025

Awayanka

889.231.254

Wanggatkibi

833.787.238

Epsembit

995.879.025

Andopbit

835.857.407

Niyimbang

912.780.411

Anggu,bit

1.117.058.521

Imko

818.161.945

Kamka

959.922.261

Osso

937.268.046

Tinggam

965.387.283

Kakuna

719.862.745

3

Waropko

Waropko

854.249.937

Winiktit

847.994.129

Kanggewot

974.665.057

Upyetetko

878.054.003

Inggembit

880.227.823

Wametkapa

951.931.312

Wombon

758.930.466

Upkim

794.626.422

Ikcan

794.362.550

4

Kouh

Kouh

742.881.808

Jair

989.458.199

Mandobo

1.042.610.661

5

Jair

Getentiri

1.722.239.296

Anggai

743.764.364

Butiptiri

999.843.592

Asiki

2.501.366.759

Kapogu

770.316.181

Miri

749.911.616

6

Bomakia

Bomakia I

1.093.223.814

Bomakia II

974.192.748

Somi

1.805.408.062

Aifo

1.058.715.969

Uni

1.140.156.843

7

Iniyandit

Langgoan

1.002.729.147

Tetop

1.001.141.057

Wariktop

818.257.818

Autriop

815.957.519

Ogenatan

1.016.475.280

8

Arimop

Maju

752.207.356

Bukit

800.105.172

Ujung

990.931.248

Ginggimop

923.660.548

Patriot

805.715.074

Arimbet

706.144.320

Aroa

827.796.926

9

Fofi

Sadar

851.178.944

Bangun

946.505.742

Makmur

977.300.309

Sohokanggo

1.023.549.715

Domo

964.638.438

Hamkhu

741.719.252

Hello

730.958.139

Navini

799.611.696

10

Ambatkwi

Kuken

1.085.858.046

Kolopkam

822.510.372

Aawaken

717.800.755

Arimbit

773.014.912

Anyumka

916.356.461

11

Manggelum

Manggelum

795.526.568

Burunggop

911.557.523

Bayanggop

790.212.191

Gaguop

942.225.662

Kewam

863.945.216

Mangga Tiga

848.160.735

12

Firiwage

Firiwage

827.954.772

Karuwage

953.694.620

Waliburu

970.826.007

Kabuwage

840.747.251

13

Yaniruma

Yaniruma

1.341.764.169

Manggemahe

930.095.677

Fefero

892.167.440

14

Subur

Subur

839.578.956

Kaisa

947.782.231

Waghai

943.893.087

Aiwat

909.724.888

15

Kombay

Wanggemalo

1.064.097.323

Sinimburu

855.315.105

Yafufla

938.945.265

Ugo

871.454.218

Dema

890.339.425

16

Ninati

Ninati

1.099.730.963

Yetetkun

917.977.372

Kawaktembut

729.804.899

Tembutka

723.916.003

Timka

733.425.848

17

Sesnuk

Sesnuk

1.132.430.880

Anggamburan

751.270.553

Kanggup

1.039.717.813

Yomkondo

947.434.902

Amboran

909.222.855

18

Ki

Metto

1.043.319.484

Obinangge

1.103.163.380

Watemu

903.679.407

Ujung Kia

1.350.630.141

19

Kawagit

Wanggom

818.316.573

Kawagit

781.210.369

Kombai

1.006.375.098

Biwage I

931.004.811

Biwage II

827.832.792

Niop

855.655.049

20

Kombut

Kombut

1.028.293.033

Mokbiran

1.281.298.470

Kawangtet

971.218.193

Amuan

1.171.417.141

Boven Digoel

 

107.925.695.005

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Boven Digoel, 2018

Kembali