INFO
  •  Sistem Informasi Manajemen Data Statistik 
  •  contoh-contoh-contoh 
Kesejahteraan Sosial 

KESEJAHTERAAN SOSIAL

 

 

Jumlah Penduduk Miskin

Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran perorangan. Garis Kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.

 

Gambar  13.1 Persentase Penduduk Mmiskin di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2013-2017

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Boven Digoel, 2018

Secara umum sejak enam tahun terakhir (periode maret 2013 s.d 2018), persentase penduduk miskin cenderung mengalami penurunan, dimana persentase penduduk miskin pada tahun 2013 adalah sebesar 23,70 persen dan menurun pada tahun 2018 senesar 20,40 persen. Penurunan persentase penduduk miskin terbesar terjadi pada tahun 2014 dimana penduduk miskin turun sebesar 4,8 persen dari tahun 2013 menjadi 18,90 persen. Dua tahun berikutnya yaitu tahun 2015 sampai 2018, jumlah penduduk miskin kembali meningkat sehingga di tahun 2016 persentase penduduk miskin sebesar 20,80 persen. Terjadi penurunan persentase penduduk miskin pada tahun 2017 menjadi 19,90 persen. Namun pada tahun 2018 jumlah penduudk miskin kembali menigkat menjadi 20,40 persen.

 

Garis Kemiskinan dan Ukuran Kemiskinan

Prespektif kemiskinan tidak cukup berhenti pada jumlah dan persentase penduduk miskin saja. Akan tetapi pembahasan tersebut menyangkut tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan, agar permasalahan kemiskinan secara holistik dapat diketahui. Indeks kedalaman kemiskinan (P1) adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan (P2) dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan penyebaran (gap) pengeluaran di antara penduduk miskin. Selain itu, strategi penanggulangan kemiskinan sebaiknya tidak hanya menekankan pada pengurangan jumlah penduduk miskin, akan tetapi juga bagaimana memperkecil nilai kedalaman dan keparahan kemiskinan yang terjadi disuatu wilayah.

Pada tahun 2017 sampai tahun 2018, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) cenderung meningkat. Indeks Kedalaman kemiskinan meningkat dari 3,32 pada tahun 2017 menjadi 4,38 pada tahun 2018. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) naik dari 0,93 pada tahun 2017 menjadi 1,51 pada tahun  2018 (Tabel 13.1). Hal ini mengindikasikan bahwa pada periode tersebut, rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin besar. Meningkatnya dua indikator pada tahun 2017 sampai tahun 2018 menunjukkan indikasi yang kurang baik pada usaha-usaha pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah.

 

Tabel 13.1 Statistik Kemiskinan di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2013-2018

Tahun

2013

2014

2015

2016

2017

2018

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Jumlah Penduduk Miskin (Ribu)

14,37

11,66

12,2

13,38

13,1

13,7

Persentase Penduduk Miskin (Persen)

23,70

18,90

19,50

20,80

19,90

20,40

Indeks Kedalaman Kemiskinan

3,69

3,61

7,62

4,22

3,32

4,38

Indeks Keparahan Kemiskinan

0,87

0,95

3,82

1,3

0,93

1,51

Garis Kemiskinan

331.147

348.779

379.630

406.678

444.813

452.723

Sumber : Badan Pusat Statistik Kab. Boven Digoel, 2018

 

Besar kecilnya jumlah penduduk miskin disuatu wilayah sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Seiring dengan kenaikan harga (inflasi) yang terjadi dari tahun ke tahun, besarnya Garis Kemiskinan juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 sampai 2018, Garis Kemiskinan Kabupaten Boven Digoel naik sebesar 1,02 persen, yaitu dari Rp444.813,- perkapita perbulan pada tahun 2017 menjadi Rp452.723,- perkapita perbulan pada tahun 2018. Hal ini mengindikasikan bahwa biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal yang layak (basic needs) semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Jika diasumsikan dalam satu rumah tangga terdapat 5 orang (bapak, istri, dan 3 anak) maka, rumah tangga tersebut dikategorikan miskin apabila pengeluaran baik makanan dan non makanan per bulan kurang dari Rp. 2.263.615,-.

 

 

Penduduk Rawan Sosial dan Sarana

  • Fakir Miskin

Gambar 13.2 menunjukkan jumlah fakir miskin di Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2013 hingga tahun 2018, namun data tahun 2018 belum tersedia. Berdasarkan data yang dirilis Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, dalam kurun waktu enam tahun terakhir sejak tahun 2013 sampai 2016, jumlah fakir miskin di kabupaten Boven Digoel terus mengalami penurunan. Pada tahun 2013 terdapat sejumlah 4.040 orang fakir miskin. Besarnya jumlah fakir miskin menurun pada tahun 2015 menjadi 4000 orang. Penurunan jumlah fakir miskin terbesar terjadi pada tahun 2016 dengan penurunan sejumlah 739 orang sehingga jumlah fakir miskin menjadi 3261 orang. Pada tahun 2017, jumlah fakir miskin meningkat drastis menjadi 8.740 orang.

 

Gambar 13.2. Jumlah Fakir Miskin di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013-2018

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2018

Keterangan : *) Data tidak tersedia

 

  • Anak Terlantar

Gambar 13.2 menunjukkan jumlah anak terlantar di Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2017, dan data jumlah anak terlantar pada tahun 2012 dan 2018 tidak tersedia. Jumlah anak terlantar di Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2013 hingga tahun 2017 mengalami fluktuasi. Peningkatan jumlah anak terlantar terjadi dari tahun 2015 hingga tahun 2017 sedangkan pada tahun 2013 ke tahun 2014 mengalami penurunan. Pada tahun 2014, jumlah anak terlantar di Kabupaten Boven Digoel berjumlah 1061 anak. Kemudia jumlah anak terlantar menurun menjadi 1027 anak pada tahun 2015. Pada tahun 2016  jumlah anak terlantar meningkat menjadi 1.039 anak, dan kembali terjadi peningkatan yang cukup besar pada tahun 2017 menjadi 1.379 anak.

 

Gambar 13.2. Jumlah Anak Terlantar di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013-2018

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2018

Keterangan : *) Data tidak tersedia

 

Adapun keadaan penduduk rawan sosial dan sarana secara keseluruhan dapat dilihat dalam tabel 13.2

 

Tabel 13.2. Jumlah Penduduk Rawan Sosial dan Sarana, Tahun 2013-2018

No

Penduduk Rawan Sosial dan Sarana

2013

2014

2015

2016

2017

2018

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1

Fakir Miskin

4.040

4.040

4.000

3.261

8.740

*

2

Balita Terlantar

*

*

*

*

*

*

3

Anak Terlantar

*

1.061

1.027

1.039

1.379

*

4

Lanjut Usia Terlantar

*

*

*

*

21

*

5

Gepeng

*

*

*

*

*

*

6

Komunitas Adat Terpencil

*

*

2.175

*

1.595

*

7

Penyandang Cacat

*

*

*

*

314

*

8

Pengungsi dan Korban Bencana

*

*

*

*

182

*

9

Penderita Sakit Jiwa

*

*

*

*

*

52

10

Penderita HIV/AIDS

*

14

13

34

31

79

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2018

Keterangan : *) Data tidak tersedia

 

 

Penduduk Penyandang Masalah Sosial

Tabel 13.2 menyajikan data jumlah penduduk penyandang masalah sosial kabupaten Boven Digoel tahun 2013 sampai 2018. Dalam tabel dapat dilihat bahwa pada tahun 2017 terdapat 379 penduduk yang menyandang masalah sosial. Dari data yang dirilis Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, pada tahun 2017 terdapat 23 penyandang tuna netra, 57 penyandang tuna rungu, 75 penyandang tuna wicara, 65 penyandang tuna wicara-rungu, 124 penyandang tuna daksa, dan 35 penduduk penyandang cacat jiwa.

 

Tabel 13.3 Jumlah Penyandang Masalah Sosial Di Kabupaten Boven Digoel (jiwa), Tahun 2013-2018

No

Penduduk Penyandang Masalah Sosial

2013

2014

2015

2016

2017

2018

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1

Penyandang Tuna Netra

*

*

*

*

23

*

2

Penyandang Tuna Rungu

*

*

*

*

57

*

3

Penyandang Tuna Wicara

*

*

*

*

75

*

4

Penyandang Tuna Wicara-Rungu

*

*

*

*

65

*

5

Penyandang Tuna Daksa

*

*

*

*

124

*

6

Penyandang Tuna Grahita

*

*

*

*

*

*

7

Penyandang Cacat Jiwa

*

*

*

*

35

*

8

Penyandang Cacat Ganda

*

*

*

*

*

*

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2018

Keterangan : *) Data tidak tersedia

 

 

Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial

Organisasi sosial dan bantuan-bantuan sosial yang ada di Kabupaten Boven Digoel secara langsung maupun tidak langsung dapat menggali potensi-potensi yang ada dimasyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Dalam menggali potensi masyarakat, ada beberapa program yang dilakukan oleh pemerintah melalui tenaga sosial yang berada dekat dengan masyarakat, karang taruna maupun bantuan raskin yang didistribusikan kepada masyarakat yang kurang mampu.

 

Gambar 13.3. Jumlah Karang Taruna, Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat (TKSM), Dan  Organisasi Sosial di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2013-2018

 

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2018

Keterangan : *) Data tidak tersedia

 

Selain itu juga terdapat organisasi sosial dan karang taruna yang berada di tengah-tengah masyarakat guna membangun potensi dan pengembangan masyarakat. Hal ini dapat dilihat melalui gambar grafik 13.3 di atas. Terlihat bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir organisasi sosial di masyarakat cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2014, organisasi sosial yang terdaftar sebanyak 8 organisasi dan mengalami peningkatan sehingga pada tahun 2015 terdapat 10 organisasi dan meningkat pada tahun 2016 hingga tahun 2017 menjadi 20 organisasi. Sedangkan karang taruna yang tercatat ada sebanyak 1 buah pada tahun 2018.

 

  • Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat (TKSM)

Dalam rangka meningkatkan tingkat kesejahteraan sosial masyarakat, Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel membentuk Tenaga Kerja Sosial Masyarakt (TKSM). Berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel bahwa tercatat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir yakni tahun 2015 sampai 2017 terdapat setidaknya 15 Tenaga Kerja Sosial Masyarakat yang tersebar di distrik-distrik. Pada tahun 2015 jumlah TKSM sebanyak 15 orang, kemudian jumlah  ini meningkat menjadi 20 TKSM pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2017.

 

  • Beras Sejahtera (RASTRA)

Beras Sejahtera (RASTRA) adalah bantuan dari pemerintah berupa beras yang dijual dengan harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat yang kurang mampu. Alokasi dan realisasi penyaluran Raskin di Kabupaten Boven Digoel seperti tampak pada Gambar 13.4. Dari Gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2013 sampai dengan 2016, baik alokasi, realisasi Raskin, dan jumlah KK penerima raskin konsisten dan tidak mengalami perubahan. Alokasi raskin sebanyak 1.710 ton setiap tahun dengan realisasi penyaluran sebanyak 1.710 ton juga dan jumlah KK penerima raskin sebanyak 9.500 kepala keluarga. Jumlah alokasi raskin, dan realisasi penyaluran mengalami peningkatan yang sangat tinggi pada tahun 2017, dimana alokasi raskin dan penyaluran naik menjadi 142.500 ton. Dengan kata lain, peningkatan alokasi dan penyaluran raskin pada tahun 2017 naik 83 kali lipat dibandingkan tahun 2016. Meskipun jumlah alokasi raskin dan penyaluran raskin naik 83 kali lipat pada tahun 2017, tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah KK penerima raskin. Jumlah KK penerima raskin pada tahun 2017 masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu berjumlah 9.500 Kepala keluarga. Pada tahun 2018 alokasi raskin dan realisasi penyaluran kembali menurun menjadi 89.256 ton. Menurunnya alokasi raskin dan realisasi penyaluran di tahun 2018 juga memengaruhi terhadap turunnya jumlah KK penerima raskin menjadi 7.438 kepala keluarga. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa alokasi Raskin disalurkan 100 persen kepada masyarakat selama tahun 2013 sampai tahun 2018.

 

Gambar 13.4 Jumlah Alokasi dan Realisasi Penerima Beras Sejahtera di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2013 – 2018

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2018

Kembali